Jurnal212.com, Jakarta – Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Eddy Rahmayadi, resmi didaulat sebagai Ketua Umum (Ketum) PSSI periode 2016-2020.

Edy terpilih hanya dalam satu putaran pada Kongres PSSI pemilihan pengurus PSSI pusat yang baru. Dengan mendulang total 76 suara, Direktur Utama PS TNI itu mendulang suara mutlak melewati 50 persen plus satu suara.

Sementara rival terkuatnya dalam Kongres Pemilihan yakni mantan Panglima Jenderal TNI, Moeldoko, hanya meraih 23 suara.

Naiknya Edy seolah menegaskan kembalinya tokoh penerus generasi militer di PSSI. Sepanjang sejarah sepak bola Indonesia, terdapat tiga tokoh berlatar belakang militer yang pernah memimpin induk organisasi sepak bola nasional itu.

Pertama adalah almarhum Maulwi Saelan yang merupakan mantan komandan pasukan pengamanan Presiden Soekarno, Cakrabirawa, pernah menjabat sebagau Ketum PSSI pada periode 1964-1967.

Berikutnya adalah Kardono yang menjabat Ketum PSSI pada periode 1983 hingga 1991. Kardono terakhir kali berpangkat Letnan Jenderal TNI Angkatan Udara atau bintang tiga sebelum pensiun di militer.

Setelah masa reformasi, Agum Gumelar terpilih sebagai Ketum PSSI periode 1999 hingga 2003 menggantikan Azwar Annas. Agum juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Bukit Barisan dan berpangkat sebagai Jenderal TNI AD sebelum pensiun.

Kini, bertambah satu lagi tokoh berlatar belakang militer dengan terpilihnya Edy di kursi panas Ketum PSSI. Sejauh ini sudah ada empat dari kalangan militer.

Edy pun ditahbiskan sebagai Ketum PSSI ke-16 sepanjang sejarah sepak bola nasional. Sebenarnya ada nama-nama seperti Moehono dan Hinca Panjaitan yang pernah menduduki Ketum PSSI. Namun, status mereka hanya sebagai pelaksana tugas sementara.

Nama Edy di sepak bola terkesan baru. Sosoknya mulai muncul ketika ia dinilai berhasil menyatukan PSMS Medan dari konflik internal kepengurusan ketika menjabat sebagai Panglima Kodam Bukit Barisan pada 2014-2015.

Baca juga:  Presiden Berharap Egy Maulana Siap Jika di Panggil Timnas Indonesia

Di bawah pengelolaannya, Edy banyak melakukan perombakan mulai dari manajemen hingga pemain di klub tersebut. Ia banyak memanggil pemain muda dan melibatkan pula beberapa prajuritnya yang bertalenta di sepak bola ke klub tersebut.

Prestasi tertinggi PSMS Medan di bawah kepengurusan Edy adalah juara Piala Kemerdekaan 2015.

Namun, Edy mengaku bukan saat itu saja ia aktif di sepak bola. Sudah lebih dari lima tahun pula ia ikut membesarkan kesebelasan PS TNI AD hingga menjadi PS TNI.

Meski klubnya saat ini berada di dasar klasemen, Edy tak mempermasalahkannya. Terpenting baginya adalah memberdayakan para pemain muda lokal. Memang hanya PS TNI di Indonesian Soccer Championship yang tetap bersikeras tak menggunakan satu pun pemain asing.

Di kalangan anggota PSSI, Edy dikenal sebagai sosok tegas sehingga dianggap layak memimpin PSSI. Cikal bakal pencalonannya pun dimulai lewat gerakan sebagian besar pemilik suara PSSI yang menamakan diri mereka Kelompok 85.

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.