oleh

Tidak Mau Beban Hutang, Bantuan Desa Pituruh Ditolak

-Berita-86 dilihat

Warga RT 01/ RW 03 No. 6 Sutogaten, Pituruh, masih ada rumah warga yang tak layak huni dan hampir rubuh karena kayu kayu rumah sudah pada kerepok dimakan rayap

Supariyo (62) sebagai warga Sutogaten, Pituruh yang sudah tinggal dari tahun 1989, tinggal dengan istri Warsi (57) dengan memiliki 4 orang anak

Supariyo bekerja sebagai tukang service elektronik atau kerja serabutan ketika tetangga sekitar membutuhkan bantuan tenaganya sebagai tukang service listrik, Sanyo dan Elektronik dengan menerima bayaran sebesar Rp. 15.000 (Lima Belas Ribu Rupiah) atau 25.000 (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah)

Kehidupan yang sulit membuat Supariyo dan keluarga hidup sederhana dan apa adanya

Yang cukup menarik adalah rumah tinggal beliau yang cukup memprihatinkan membuat Insan Pers tertarik mewawancarai Supariyo

“Rumah bapak seperti ini apakah ada perhatian dari Desa atau Aparatur Desa setempak pak untuk membantu rumah Bapak..?”
Wawancara Darma

“Kami pernah di tawarkan Desa melalui Kadus Tumingan, Bantuan Bedah Rumah dalam bentuk Bahan Bangunan Material sebesar Rp. 12.500.000 (Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) dan jasa tukang sebesar Rp. 2.500.000 (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah), saya dan anak anak menolak karena uang bantuan itu harus dipakai untuk membangun satu rumah utuh dan bila kurang sisanya kami yang nomboki perbaikan rumahnya, kami tidak ada apa apa yang dapat kami jual, hanya memiliki Sertipikat Hak Milik dan di suruh di jaminkan ke bank untuk nambahkan kekurangan bedah rumah saya, saya mana sanggup mencicilnya” Tungkas Supariyo

“Kami bayar pakai apa Pak, cicilannya nanti, sedangkan saya kerja jadi OB di Puskesmas Pituruh hanya gaji pas untuk hari hari makan” keluh Siswanto (anak tertua dari Supariyo)

Baca juga:  Kang Wawan Hermawan dikawal Kaum Milenial, di Jum'at yang Penuh Barokah

“Kami lebih baik rumah seperti ini Pak, dari pada kami kaga sanggup bayar hutang dan rumah kami di sita, maka itu kami menolak dan bantuan itu uang dari mana kami untuk nomboki kekurangannya” tungkas Warsi (Istri Supariyo)

Alasan keluarga menolak bantuan desa yang dipaksakan rumah harus jadi walau dengan bantuan sebesar 15.000.000 (Lima Belas Juta Rupia) dan dipaksa secukupnya

Mereka lebih ikhlas rumah apa adanya akan tetapi tidak mempunyai beban hidup

Di lain pihak, awak media mengkomfirmasi kepada Tumingan Kadus Sutogaten, Pituruh,

“Memang benar ada bantuan bedah rumah dari Desa terpilih adalah Supariyo, tetapi ditolak karena memang bila warga yang terpili dibantu tidak dapat meomboki sisanya untuk nedah rumahnya sendiri, maka di batalkan dan di alihkan ke warga lain yang mau dan dapat menomboki bedah rumahnya pakai uang Pribadi dan harus menjadi rumah utuh agar dapat saya pertangyung jawabkan kepada Desa.(Bambang)

Komentar

Kotak Berita