oleh

dr. Rahmadi Iwan Guntoro SpP: Pemikiran Setelah 6 bulan Berhadapan dengan Covid-19

PENCEGAHAN DIRI DARI PAPARAN COVID

Akhir Agustus kemarin, suami saya, seorang dokter spesialis paru dan saluran pernapasan, mengalami hipoksia jantung karena kelelahan yang memuncak dan penggunaan APD level 3 yang terlalu lama akibat melonjak tajamnya kasus Covid-19. Rekan sejawat yang menanganinya, yakni dokter spesialis jantung, memerintahkan untuk istirahat total di rumah selama 4 hari. Maka semua media komunikasinya dinon-aktifkan, agar bisa benar-benar istirahat, tanpa memikirkan pasien sama sekali. (Padahal sejak awal Maret, di rumah pun tetap melayani konsultasi via HP-nya sehingga waktu istirahatnya tersita banyak untuk itu).

Setelah merasa kondisinya lebih baik, saya dimintanya menuangkan “nasihat”nya dalam tulisan, apa saja yang dapat mencegah diri kita dari paparan Covid. Ini merupakan hasil pemikirannya setelah 6 bulan berhadapan dengan penyakit berbahaya ini.

Berikut ini adalah empat tips pencegahan tersebut yang meliputi:

1. Memohon Ampunan kepada Sang Penguasa Alam Dunia

Ilustrasi: Bertaubat

Wabah ini terjadi atas kehendak-Nya. Terlepas dari bagaimanapun asal mula munculnya wabah ini yang sempat menjadi perdebatan antara mereka yang “dinobatkan” sebagai ahli pandemi, ini semua takkan bisa terjadi bila Dia tak menghendaki ini terjadi. Dialah Sang Pengatur segala sesuatu dengan Maha Luas Kuasa-Nya.
Oleh karena itu, hanya rahmat dan kasih sayang-Nya yang dapat menjaga kita dari segala keburukan. Padahal betapa banyak kekhilafan dan kelalaian yang telah kita lakukan. Hanya dengan bertaubat dan memohon ampunan pada-Nya, kita harap rahmat-Nya akan turun melingkupi kita.
Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi pada umat. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, maka bertobat dan beristighfar dapat menghilangkan bencana.

2. Memantaskan Diri agar doa dikabulkan oleh Sang Pengabul Doa

Ilustrasi: Memperbaiki diri

Banyaknya ikhtiar menjadi tanpa makna apabila tidak disertai doa. Maka berdoa sesering mungkin kepada-Nya agar terhindar dari wabah merupakan hal yang amat penting dan tak sepantasnya untuk ditinggalkan.
Namun tak semua doa dikabulkan Allah. Ada beberapa kondisi yang membuat Allah enggan mengabulkan doa. Di antaranya doa yang disampaikan oleh orang yang dalam tubuhnya terdapat keharaman. Entah makanan minumannya haram atau pakaiannya yang haram. Maka tinggalkanlah segala bentuk keharaman dan raihlah yang halal-halal saja.
Memperbaiki diri, mendekatkan diri pada Allah, memaksimalkan ibadah dan menjauhi larangan-Nya adalah bentuk memantaskan diri agar Allah mengabulkan doa kita.

3. Bersedekah

Ilustrasi: Bersedekah

Apa hubungannya antara bersedekah dengan pencegahan covid? Tentu ada.
Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat Al Balad:11-14 yang ditafsirkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa kita dianjurkan untuk bersedekah pada saat“Dzi mas-ghabah berarti keadaan penuh kelaparan, bisa jadi karena kelaparan melanda, bisa jadi karena hasil pertanian dan buah-buahan berkurang, bisa jadi pula karena penyakit pada tubuh mereka, atau bisa pula ada makanan namun tidak mengenyangkan.”
Ya, sedekah memang dapat menangkal bala.

4. Mematuhi aturan mengenai Protokol Kesehatan

Ilustrasi: Mematuhi Protokol Kesehatan

Mari kita mengingat firman Allah dalam Al Quran surat An Nahl:43 “…. maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan…”
Ilmu pengetahuan mengenai wabah penyakit adalah domainnya para tenaga kesehatan. Mereka telah menempuh pendidikan yang berat selama bertahun-tahun mengenai penanganan penyakit. Maka dengan menjadikan mereka sebagai tempat bertanya dan mengikuti anjuran mereka, insyaa Allah merupakan cara yang tepat sebagai bentuk ikhtiar melindungi diri dari paparan penyakit.
Namun sayangnya, banyak manusia berhati batu di sekeliling kita. Mereka dengan sombongnya menyatakan bahwa covid ini tak nyata adanya. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan kondisi politik di negeri kita. Dengan kata lain, mereka tidak mempercayai penjelasan tenaga kesehatan yang tak lelah mengingatkan masyarakat. Ironisnya saat mereka dan anggota keluarga mereka sakit terpapar covid, mereka memelas pada tenaga kesehatan untuk diberi pertolongan. Di manakah akal sehat mereka…?
Berikut adalah protokol kesehatan standar yang sebenarnya amat mudah dilakukan:

  1. Menggunakan masker bila keluar rumah
  2. Menjaga jarak minimal 1meter dengan orang lain
  3. Menjaga perilaku hidup bersih dan sehat
  4. Sering mencuci tangan dan tidak menyentuh daerah wajah utamanya mata, hidung dan mulut
  5. Istirahat yang cukup
  6. Makan makanan bergizi. Bila perlu mengkonsumsi suplemen tambahan/vitamin
  7. Aktifitas fisik terukur, jangan terlalu lelah dan berolahraga ringan 30 menit setiap hari dibawah sinar matahari
  8. Hindari penggunaan AC terus menerus, buka jendela, perbaiki ventilasi agar sinar matahari masuk
  9. Kalau tidak perlu sekali, hindari bepergian ke daerah transmisi red zone covid 19, juga hindari keramaian yang tidak memberlakukan protokol kesehatan dengan benar
  10. Hindari mengkonsumsi daging/telur mentah maupun daging/telur setengah matang.

Demikian keempat tips pencegahan diri dari sakit akibat covid. Berlaku pula untuk berbagai keburukan lainnya.
Lalu… apakah mereka yang sakit telah meninggalkan keempat hal tersebut? Hai… mengapa kita berburuk sangka? Tidakkah lebih baik jika kita berprasangka baik saja pada saudara kita? Itu terjadi karena Allah Menyayanginya. Allah ingin derajatnya naik di hadapan Allah setelah kesembuhannya, dan Allah Menyayanginya lebih banyak lagi.

(Iin Indriyani – Isteri dr Rahmadi Iwan Guntoro SpP)

Profil dr Rahmadi Iwan Guntoro SpP

dr. Rahmadi Iwan Guntoro, Sp.P merupakan Dokter Spesialis Paru yang telah menamatkan pendidikan spesialisnya di Universitas Indonesia. Beliau menangani penanganan medis seperti Konsultasi Paru-paru dan Pernapasan.

dr. Rahmadi Iwan Guntoro memiliki pengalaman praktik di Rumah Sakit Haji Jakarta dan Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. Beliau tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Saat ini beliau sedang intens dalam menangani pasien Covid-19, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu melindungi dan melimpahkan kesehatan, keselamatan dan kekuatan kepada beliau, dan juga teman-teman tim medis, tim kesehatan dan seluruh pejuang yang rela berkorban saat pandemi ini.

Kami segenap warga Indonesia berterima kasih dan terus mendukung para Pahlawan Kemanusian ini. (Redaksi)

Komentar

Kotak Berita